SURABAYA – Hormon testosteron selalu diasosiasikan sebagai hormon seks. Padahal, hormon tersebut juga terkait erat dengan pengaturan metabolisme tubuh. Apabila jumlah testosteron berkurang, metabolisme tubuh akan terganggu dan penyakit degeneratif mudah menyerang.
Hal itu terungkap dalam Intensive Course of Health and Sexual Health of Aging Male yang diadakan RSAL dr Ramelan dan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Hang Tuah (UHT) di Hotel Santika kemarin (12/7). Acara tersebut membahas kesehatan reproduksi lelaki berkaitan dengan usia. Pesertanya kalangan dokter. Mulai dokter umum hingga spesialis penyakit dalam, radiologi, rehab medik, dan kandungan.
Menurut Prof dr Arief Adimoelja MSc SpAnd FSS (Be), salah seorang pembicara, semakin bertambah usia seseorang, semakin berkurang produksi testosteronnya. Pada usia 20 hingga 30 tahun, produksi testosteron masih dalam jumlah normal. Yakni, 250 mg hingga 1.000 mg per liter darah.
Namun, seiring usia yang bertambah, jumlahnya turun sedikit demi sedikit. ”Saat seorang laki-laki mencapai usia 40 tahun, jumlah testosteron dalam tubuhnya berkurang. Paling tidak 1,4 persen per tahun,” terang guru besar FK UHT itu.
Menyambung pernyataan Arief, profesor kehormatan FK UHT Prof dr Farid Saad mengatakan, penurunan kadar testosteron dalam darah mengakibatkan lemak dalam tubuh menumpuk dalam perut. Akibatnya, perut membuncit. ”Makanya, yang perlu diwaspadai para lelaki berusia di atas 40 tahun adalah lingkar perutnya,” jelasnya. Lingkar perut lelaki Eropa, kata Farid, jangan sampai lebih dari 94 sentimeter. Lingkar perut lelaki Asia jangan sampai melampaui 90 sentimeter.
Menurut Farid, lingkar perut yang membesar, apabila dibarengi kadar kolesterol tinggi dan atau gula dalam darah akan mengakibatkan sindroma metabolik. Yakni, metabolisme tubuh terganggu akibat pola hidup tidak sehat.
Arief menambahkan, berkurangnya testosteron bisa mengakibatkan banyak hal. Mulai gangguan fungsi organ seksual hingga stamina tubuh. ”Mengetahuinya cukup mudah. Biasanya yang testosteronnya banyak berkurang itu yang ngantukan. Sesudah makan, ingin langsung tidur. Libido juga menurun,” katanya.
Karena itu, saran Arief, upaya mempertahankan kadar testosteron dalam darah bisa dilakukan dengan mengonsumsi makanan yang seimbang. ”Tidak harus makan sayur dan buah. Testosteron bisa ditingkatkan dengan konsumsi makanan berlemak. Tubuh pun memerlukan kolesterol, tapi pada kadar tertentu. Jangan berlebihan,” ungkapnya.
Begitu pula halnya dengan olahraga. Olahraga yang terlalu banyak, menurut Arief, bisa menurunkan kadar testosteron dalam darah. ”Pokoknya, jangan sampai di luar kemampuan tubuh,” ungkap dia. (aga/roz)
jawa pos, minggu 12 juli 2008
Ni posting berita kok sama kayak JawaPos??
By: sagung on July 16, 2008
at 10:26 pm
emang tak sengaja sama kayak jawa pos, tu dibawah udah tak kasih keterangan kalo itu dari jawa pos… geto…
By: amain on July 17, 2008
at 6:58 pm
Wah..wah..wah..
Ini mah artikel cowok banget. Bukan cewek banget.
Apa itu testoteron? Apa itu perut buncit?
Cewek kan selalu terbebas dari hal-hal gituan. Terbukti di Q seh.
Hahahaha….
(^_^)v
By: zoehrieya on May 5, 2009
at 1:10 pm